Resum Materi Day 2 PKKMB UNUSA TA 2025/2026
Ainun Ajib Ahli IT Indonesia : Perguruan Tinggi di Era Digital dan Revolusi Industri, Dr. Ghufron S.H., M.H Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi : Generasi Muda Berintregritsas Anti Korupsi, KH. Ma'ruf Khozin-Ketua Aswaja Center PWNU Jawa Timur : Mahasiswa UNUSA sebagai generasi Aswaja An Nahdliyah
Perguruan Tinggi di Era Digital dan Revolusi Industri
Perguruan tinggi di era digital dan revolusi industri mengalami transformasi besar dalam cara mereka berfungsi, mengajar, dan berinteraksi dengan mahasiswa serta masyarakat. Berikut adalah beberapa aspek utama dari perubahan tersebut: Pembelajaran Digital dan Online . Penggunaan platform e-learning, MOOC (Massive Open Online Courses), dan webinar memungkinkan akses pendidikan yang lebih luas dan fleksibel. Mahasiswa dapat belajar kapan saja dan di mana saja, meningkatkan inklusivitas dan efisiensi. Kurikulum Berbasis Teknologi .
Integrasi teknologi terbaru seperti kecerdasan buatan, big data, dan Internet of Things (IoT) ke dalam kurikulum. Pengembangan program studi baru yang relevan dengan kebutuhan industri 4.0. Revolusi Industri 4.0 dan Keterampilan Baru Perguruan tinggi menyesuaikan kurikulum untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi otomasi, robotika, dan analitik data. Fokus pada soft skills seperti kreativitas, kolaborasi, dan pemecahan masalah.
Infrastruktur Digital dan Infrastruktur Kampus Peningkatan infrastruktur TI, seperti jaringan broadband cepat, laboratorium virtual, dan perangkat lunak kolaboratif. Kampus digital yang mendukung aktivitas belajar dan penelitian. Kolaborasi dan Kemitraan Global. Kemitraan dengan institusi internasional, perusahaan teknologi, dan startup untuk inovasi dan riset bersama. Program pertukaran mahasiswa dan dosen secara virtual maupun fisik.
Pengukuran dan Evaluasi Berbasis Data. Penggunaan Learning Analytics untuk memonitor kemajuan mahasiswa dan meningkatkan proses pembelajaran. Data-driven decision making dalam pengelolaan institusi. Peran Perguruan Tinggi sebagai Inovator dan Penggerak Revolusi Industri. Perguruan tinggi tidak hanya mengajar tetapi juga menjadi pusat inovasi dan penelitian terapan. Pengembangan startup dan inkubator bisnis berbasis teknologi. Secara keseluruhan, perguruan tinggi di era digital dan revolusi industri harus mampu beradaptasi dengan cepat agar tetap relevan dan mampu menghasilkan lulusan yang kompeten di era yang penuh perubahan ini.
Generasi Muda Berintregritsas Anti Korupsi
Korupsi adalah kanker yang merusak sendi kehidupan bangsa, menghambat pembangunan, dan merampas hak rakyat. Pemberantasannya bukan hanya tugas pemerintah atau aparat, tetapi tanggung jawab seluruh rakyat, terutama generasi muda sebagai penentu masa depan bangsa. Generasi muda penting karena mereka akan menjadi pemimpin, profesional, dan warga negara yang menentukan arah Indonesia. Mereka memiliki energi, kreativitas, penguasaan teknologi, pola pikir kritis, serta idealisme tinggi yang dapat menjadi kekuatan besar untuk menciptakan sistem yang transparan, menantang budaya korupsi, dan melahirkan solusi inovatif.
Kunci utama peran pemuda adalah integritas, yang meliputi kejujuran, konsistensi, tanggung jawab, keadilan, keberanian menolak suap atau gratifikasi, serta kemandirian. Dari sini, pemuda dapat menjadi garda terdepan anti korupsi dengan langkah nyata: menanamkan integritas sejak dini, menolak praktik kecil yang mengarah pada korupsi, hidup sederhana, meningkatkan edukasi dan kesadaran, memanfaatkan teknologi untuk transparansi, aktif mengawasi anggaran, menggunakan hak pilih secara bijak, serta menjadi teladan melalui prestasi tanpa jalan pintas.
Meski menghadapi tantangan berupa budaya “jalan pintas”, tekanan ekonomi, pengaruh lingkungan yang tidak mendukung, dan rasa takut melapor, generasi muda tetap memiliki peluang besar untuk menjadi agen perubahan. Dengan integritas yang kuat, keberanian bersuara, serta pemanfaatan teknologi, generasi muda mampu menciptakan pemerintahan yang bersih, akuntabel, dan transparan. Indonesia bebas korupsi bukan sekadar mimpi, melainkan tujuan yang dapat diwujudkan oleh generasi muda berintegritas baja.
Mahasiswa UNUSA sebagai generasi Aswaja An Nahdliyah
Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) diposisikan sebagai penerus tradisi keilmuan dan keagamaan Aswaja An-Nahdliyah, karena UNUSA berdiri di bawah naungan NU. Aswaja An-Nahdliyah berlandaskan Ahlusunnah wal Jama’ah dengan ciri moderasi (tawassuth), keseimbangan (tawazun), toleransi (tasamuh), dan kemaslahatan (ishlah).
Mahasiswa UNUSA berperan sebagai penjaga tradisi keilmuan (memahami kitab klasik dengan pendekatan kontekstual), agen moderasi beragama (menolak radikalisme, membangun toleransi, menyebarkan Islam rahmatan lil ‘alamin), pejuang kemaslahatan sosial (pemberdayaan masyarakat, advokasi isu kemanusiaan), serta inovator dalam tradisi (mengadaptasi nilai Aswaja dalam teknologi, budaya, dan tantangan kontemporer).
Implemnetasi nilai tersebut tampak dalam kurikulum khas Aswaja, kegiatan mahasiswa seperti kajian kitab, organisasi ke-NU-an (PMII, IPNU/IPPNU), festival budaya NU, hingga keterlibatan langsung dalam program NU di tingkat nasional maupun daerah.
Meski menghadapi tantangan globalisasi, radikalisme, disrupsi digital, dan relevansi generasi muda, mahasiswa UNUSA tetap diharapkan menjadi generasi harapan: menginternalisasi nilai Aswaja, mengimplementasikan prinsip moderat dan toleran dalam masyarakat, serta mengembangkan tradisi intelektual NU agar tetap relevan dengan zaman.
Sejalan dengan pesan KH. Hasyim Asy’ari, mahasiswa UNUSA dituntut untuk melestarikan yang baik dan mengembangkan yang aswaja, sekaligus menjadi garda terdepan peradaban Islam Nusantara yang berkeadilan, beradab, dan berkarakter.
1. Landasan Ideologis: Apa Itu Aswaja An-Nahdliyah?
Aswaja Ahlusunnah wal Jama'ah): Merupakan paham keislaman yang mengikuti jejak generasi terbaik (salafus shalih) dalam beragama, berpegang pada Al-Qur'an, Hadis, Ijma Ulama, dan Qiyas.
An-Nahdliyah: Merujuk pada corak ke-NU-an yang menekankan keseimbangan (tawazun), moderasi (tawassuth), toleransi (tasamuh), dan kemaslahatan (ishlah).
Ciri Khas:
Berada di tengah (bukan ekstrem kanan maupun kiri). Menghormati keberagaman mazhab (terutama Syafi'iyyah dalam fiqih, Asy'ariyyah/Maturidiyyah dalam akidah, dan Al-Ghazali dalam tasawuf). Mengutamakan dampak sosial dari pemahaman agama (fiqih sosial).
2. Peran Mahasiswa UNUSA sebagai Generasi Aswaja An-Nahdliyah
a. Penjaga Tradisi Keilmuan. Mahasiswa UNUSA dididik untuk memahami dan mengamalkan khasanah keilmuan klasik NU (kitab kuning) dengan pendekatan kontekstual.
Contoh: Studi kitab seperti Ta'limul Muta'allim, Fathul Qorib, atau Uqudulujain yang menjadi rujukan etika dan ibadah dalam tradisi NU.
b. Agen Moderasi Beragama. Sebagai kader NU, mahasiswa UNUSA diarahkan untuk menjadi pelopor toleransi dan perdamaian: menolak radikalisme dan ekstremisme, membangun dialog antaragama dan budaya., menyebarluaskan Islam yang rahmatan lil 'alamin (kasih sayang untuk semesta).
c. Pejuang Kemaslahatan Sosial
Aswaja An-Nahdliyah mengutamakan amar ma'ruf nahi munkar melalui pendekatan yang bijak: terlibat dalam pemberdayaan masyarakat (ekonomi, pendidikan, kesehatan), mengadvokasi isu-isu kemanusiaan (lingkungan, kesetaraan gender, anti-korupsi).
Contoh: Kegiatan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Islam di UNUSA yang fokus pada sosial kemasyarakatan.
d. Inovator dalam Tradisi
Mahasiswa UNUSA didorong untuk mengadaptasi nilai-nilai Aswaja dalam konteks modern: mengembangkan teknologi dan startup berbasis nilai Islam, menyelesaikan masalah kontemporer (seperti hoaks, radikalisme online) dengan perspektif Aswaja, mempopulerkan budaya lokal (seperti gamelan, wayang) sebagai bagian dari dakwah kebudayaan NU.
3. Implementasi di Kampus UNUSA
Kurikulum: Mata kuliah wajib seperti Pendidikan Agama Islam, Ke-NU-an, dan Aswaja An-Nahdliyah yang mengajarkan landasan teologis dan praktis. megiatan kemahasiswaan:
Majelis Taklim: Kajian kitab klasik dan kontemporer.
Lembaga Semi Otonom (LSO): Seperti PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) atau IPNU/IPPNU yang mengkader aktivis Aswaja.
Festival Budaya NU: Mengangkat tradisi seperti shalawatan, hadrah, dan dzikir. Kolaborasi dengan NU: Mahasiswa terlibat aktif dalam kegiatan PBNU atau PWNU Jawa Timur, seperti Muktamar, Harlah NU, atau program sosial.
Baca juga blog teman saya : Tsabita Nur Munadi Ihsan

Komentar
Posting Komentar